Bismillah....
"Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya)." (QS. AN NAML:62)
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
Rabu, 30 November 2011
Selasa, 27 September 2011
(PANDUAN ILMU)Motivasi Belajar Ilmu Syar’i
Motivasi Belajar Ilmu Syar’i
Kita perlu berbicara tentang motivasi belajar ilmu syar’I karena motivasi yang tinggi akan mendorong kita untuk selalu istiqomah dalam menghadapi rintangan dan cobaan dalam menuntut ilmu. Menuntut ilmu itu memang sulit disebabkan besarnya pengorbanan baik harta, tenaga dan pikiran kita. Ilmu tidak mungkin diraih tanpa didiringi kesabaran terhadap segala rintangannya, selain seseorang harus mencurahkan jiwa dan raga untuk mendapatkannya. Barangsiapa menafkahkan masa mudanya untuk mencari ilmu, maka ketika tua akan kagum dengan hasil panennya dan merasa nikmat ketika menuliskan apa yang dilkumpulkannya selama ini; seakan-akan ia tidak merasakan hilangnya kenyamanan sedikitpun bagi tubuhnya tatkala melihat kenikmatan dari ilmu yang diraihnya. Ada seseorang yang bertanya kepada Imam Ahmad’ “Kapan saatnya untuk bersantai?” maka jawab beliau, “Ketika sebelah kaki kita berhasil menginjak jannah!”
Begitu pentingnya menumbuhkan motivasi dalam diri seseorang karena apabila motivasi telah hilang, maka ia akan enggan untuk berbuat sesuatu. Kita berada di zaman dimana banyak manusia semangatnya sudah mati, sehingga keinginan belajar ilmu syar’i semakin melemah dan kemauan untuk mengajarinya semakin menurun. Semoga Allah merahmati Ibnu Jarir ath-Thabari. Suatu saat ia pernah berkata kepada muridnya, “Apakah kalian siap menulis sejarah? “Para murid bertanya, “Berapa lembar?” Ibnu Jarir menjawab, “Tiga puluh ribu lembar.” Mereka berkata, “Ini suatu yang sulit yang menghabiskan seluruh umur.” Ibnu Jarir berkata, “La haula wala quwwata illa billah, semangat sudah mati.” Apa yang akan dikatakan Ibnu Jarir jika menjumpai masa kita ini, yang seseorang tidak dapat memaksa dirinya menulis atau menghafal tiga puluh ribu lembar. Keharusan kita untuk belajar ilmu syar’I karena ilmu ini termasuk bagian dari syari’at Allah dan juga warisan para nabi yang diberikan kepada kita. Adalah hak Beliau atas kita untuk menjaga warisannya dari kebinasaan dan kepunahan.
Cerita tentang para ulama dan para imam yang mendapat petunjuk adalah sarana terbesar untuk menanamkan keutamaan dalam jiwa demi mengobarkan semangat dan memotivasi untuk kebaikan dan ketakwaan. Ibnu Katsir bercerita tentang dirinya ketika beliau sedang menulis kitabnya “jami’ul masaanied”, “Konon aku terus menerus menulisnya dimalam hari, sedang cahaya pelita yang menerangiku terang-redup hingga akupun menjadi buta karenanya. Ja’far bin Durustuwaih berkata, “ Kami mengambil tempat duduk karena terlalu padat di sebuah majelis Ali bin Al-Madini waktu Ashar untuk kajian esoknya. Kami menempatinya sepanjang malam karena khawatir esoknya tidak mendapat tempat untuk mendengarkan kajiannya karena penuh sesaknya manusia. Saya melihat seseorang yang sudah tua di majelis tersebut kencing dijubahnya karena khawatir tempat duduknya diambil apabila ia berdiri untuk kencing.”
Ibnu Asakir ketika menyebutkan biografi seorang yang shaleh Abu manshur Muhammad bin Husain An-Naisbury berkata, “Beliau orang yang selalu giat dan semangat dalam belajar, meski dalam keadaan fakir. Sampai-sampai beliau menulis pelajarannya dan mengulangi membacanya dibawah cahaya rembulan karena tidak punya sesuatu untuk membeli minyak tanah. Walaupun beliau dalam kedaan fakir, namun beliau selalu hidup wara’ dan tidak mengambil harta yang syubhat sekalipun.
Kisah mengenai perjuangan para ulama dalam menuntut ilmu sungguh bagaikan cerita fiksi atau dongeng bagi kita saat ini karena beratnya perjalanan menuntut ilmu dan sulitnya kondisi mereka sehingga kita berpikir seolah-olah hal itu tidak mungkin terjadi pada orang-orang saat ini. Terbatasnya fasilitas baik alat komunikasi dan transportasi tidak menyurutkan motivasi mereka untuk menuntut ilmu sebagaimana perjuangan yang dilakukan oleh Sa’id bin Musayyab. Beliau berkata, “Sesungguhnya aku pernah berjalan berhari-hari dan bermalam-malam untuk mencari satu hadits.” Renungkanlah bagaimana perjuangan Imam Syafi’I yang terus bersemangat menuntut ilmu walaupun beliau hidup dalam kesulitan materi.
Imam Syafi’I menceritakan kisahnya, “Dahulu aku menyimak guru yang mengajarkan para muridnya dan aku menghafal apa yang dikatakannya. Sedangkan ibuku tidak punya apa-apa untuk membayar guru. Aku adalah seorang anak yatim. Guruku itu juga membolehkanku untuk ikut bersamanya. Para murid menulis. Sebelum guru tersebut selesai dari mendiktekan, aku telah terlebih dahulu menghafalkan apa yang aku tulis. Setelah pulang, aku mengutip tembikar, pelepah kurma dan tulang unta. Aku menulis hadits padanya dan aku pergi ke tempat belajar sambil mencari sisa-sisa kertas dan aku menyalinnya hingga penuh gentong milik ibuku dengannya.
Bayangkan! Imam syafi’I yang seorang yatim, miskin, yang hanya mampu menulis diatas sisa-sisa kertas, tulang dan pelepah kurma namun segala keterbatasan tersebut tidak membuat beliau mengeluh, putus asa dan berdiam diri dari menuntut ilmu. Perjuangan yang tak kenal lelah itu telah menjadikan beliau sebagai seorang yang memiliki ilmu yang mendalam hingga akhirnya beliau menjadi Imam kaum Muslimin, Para ulama terdahulu melakukan perjalanan jauh hingga mengelilingi negeri-negeri yang jauh untuk menuntut ilmu. Motivasi yang rendah takkan mampu menggerakkan tubuhnya walau hanya selangkah. Motivasi yang rendah hanya menjadikan dirinya santai berbaring diatas ranjang, malas melakukan aktivitas dan hanya melamun memimpikan kesenangan dialam bawah sadarnya.
Motivasi yang tinggi telah mendorong Imam Ibn Mandah untuk mengelilingi timur dan barat sebanyak dua kali. Beliau melakukan perjalanan menuntut ilmu dalam jangka waktu yang lama. Imam Ibn Mandah pergi menuntut ilmu ketika berumur 20 tahun dan kembali ketika berumur 65 tahun. Lama perjalanan menuntut ilmu beliau selama 45 tahun. Imam Ibn Mandah kembali ke negerinya setelah tua dan dia baru menikah ketika berumur 65 tahun. Kecintaan para ulama pada ilmu syar’I meyebabkan mereka rela untuk lelah berjalan, menahan lapar dan dahaga.
Imam Bukhari bercerita tentang keadaannya ketika menuntut ilmu, “Suatu ketika aku pergi mengunjungi Adam bin Abi Iyas di ‘Asqalan, namun uang belanjaku tidak kunjung datang hingga aku terpaksa memakan rerumputan dan tidak seorangpun yang tahu hal itu. Hingga memasuki hari ketiga, tiba-tiba ada seorang lelaki tidak dikenal yang mendatangiku lalu memberiku sekantung uang dinar, sambil berkata, “Pergunakanlah uang ini untuk mencukupi kebutuhanmu.”
Simaklah pula kisah Abu Hatim yang mengisahkan segala ujian berat yang beliau hadapi selama menuntut ilmu, “Pada tahun 214 H aku menetap dikota Basrah selama delapan bulan dan aku telah merencanakan untuk menetap selama setahun penuh, namun aku kehabisan bekal hingga aku terpaksa menjual pakaianku satu per satu hingga tidak ada lagi yang tersisa bagiku. Akupun tetap berkeliling dengan seorang sahabatku mendatangi rumah para syaikh dan mendengarkan hadits dari mereka hingga sore. Setelah itu, temankupun beranjak dan aku pulang sendirian kesebuah rumah kosong, lalu aku cepat-cepat minum air karena begitu laparnya. Keesokan harinya, aku kembali berkeliling dengan sahabatku untuk mendengarkan hadits dalam keadaan lapar berat. Sampai ia beranjak dan aku berpisah dengannya. Keesokan harinya, sahabatku itu datang lagi kepadaku lalu mengatakan, “Ayo kita pergi mendatangi para syaikh.” Maka jawabku, “Aku sudah lemas tidak sanggup lagi..” Ia bertanya, “Kenapa?” Maka jawabku, “Aku akan berterus terang padamu; sudah dua hari berlalu dan aku belum makan sesuap pun.” Maka katanya, “Ini masih ada satu dinar, akan kuberikan setengahnya padamu atau yang setengahnya lagi kau ambil sebagai upah.” Maka kamipun meninggalkan kota Basrah setelah kuambil darinya setengah dinar.”
Begitu cintanya para ulama terdahulu pada ilmu syar’I hingga mereka rela mengorbankan jiwa dan raga karena bagi mereka ilmu syar’I merupakan harta yang sangat berharga dan permata yang mahal. Ketika para salaf memahami hal ini, mereka merasa rugi jika tidak mendapatkannya atau bersedih karena kehilangan sesuatu yang berkaitan dengan ilmu syar’i. Sebagaimana mereka merasa rugi karena kehilangan anak, istri dan hartanya. Abu Ali Al-Farisi berkata, “pernah terjadi kebakaran di Baghdad yang menghanguskan semua kitab saya, Padahal saya menuliskannya dengan tangan saya sendiri. Selama dua bulan saya tidak bisa berbicara dengan seorangpun karena diselimuti rasa sedih dan bingung. Saya terus menerus sedih dan bingung.”
Mempelajari perjuangan para ulama dalam menuntut ilmu akan menyalakan semangat yang padam kembali membara. Perjuangan mereka yang tak kenal lelah dan segala keterbatasan mereka baik moril maupun materil dalam menuntut ilmu telah menjadikan mereka sebagai orang-orang yang mulia dari kalangan kaum Muslimin hingga saat ini. Para ulama salaf telah memberikan contoh yang baik dan teladan yang agung tentang bagaimana bersemangat dalam menuntut ilmu, meraihnya serta merindukannya. Mereka mengembara keluar dari negerinya dengan membawa bekal seadanya dan meninggalkan kenikmatan berkumpul bersama keluarga untuk berburu ilmu pada para ulama tanpa mengenal batas dimensi ruang dan waktu.
Kisah-kisah para ulama ketika menuntut ilmu merupakan pelajaran bagi kita sebagaimana dalam firman Allah, “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Yusuf: 111)
Jika motivasi kita mulai melemah ketika menuntut ilmu, maka ada baiknya kita menengok kisah-kisah para ulama besar sehingga menumbuhkan kembali motivasi kita dalam menuntut ilmu syar’I.
(Panduan Lengkap menuntut ilmu, Syaikh Muhammad Ibn Shaleh Al-Utsaimin; Pustaka Ibn Katsir. 102 Kiat Agar Semangat Belajar Membara, Abul Qa’qa Muhammad bin Shalih alu Abdillah; Elba. Langkah Pasti Menuju Bahagia, Dr. Abdul Muhsin bin Muhammad Al-Qasim; Daar An-Naba) "http://jiwang.org/groups-ilmiah/32900-panduan-ilmu-motivasi-belajar-ilmu-syar-i.html"
Motivasi Belajar Ilmu Syar’i
Kita perlu berbicara tentang motivasi belajar ilmu syar’I karena motivasi yang tinggi akan mendorong kita untuk selalu istiqomah dalam menghadapi rintangan dan cobaan dalam menuntut ilmu. Menuntut ilmu itu memang sulit disebabkan besarnya pengorbanan baik harta, tenaga dan pikiran kita. Ilmu tidak mungkin diraih tanpa didiringi kesabaran terhadap segala rintangannya, selain seseorang harus mencurahkan jiwa dan raga untuk mendapatkannya. Barangsiapa menafkahkan masa mudanya untuk mencari ilmu, maka ketika tua akan kagum dengan hasil panennya dan merasa nikmat ketika menuliskan apa yang dilkumpulkannya selama ini; seakan-akan ia tidak merasakan hilangnya kenyamanan sedikitpun bagi tubuhnya tatkala melihat kenikmatan dari ilmu yang diraihnya. Ada seseorang yang bertanya kepada Imam Ahmad’ “Kapan saatnya untuk bersantai?” maka jawab beliau, “Ketika sebelah kaki kita berhasil menginjak jannah!”
Begitu pentingnya menumbuhkan motivasi dalam diri seseorang karena apabila motivasi telah hilang, maka ia akan enggan untuk berbuat sesuatu. Kita berada di zaman dimana banyak manusia semangatnya sudah mati, sehingga keinginan belajar ilmu syar’i semakin melemah dan kemauan untuk mengajarinya semakin menurun. Semoga Allah merahmati Ibnu Jarir ath-Thabari. Suatu saat ia pernah berkata kepada muridnya, “Apakah kalian siap menulis sejarah? “Para murid bertanya, “Berapa lembar?” Ibnu Jarir menjawab, “Tiga puluh ribu lembar.” Mereka berkata, “Ini suatu yang sulit yang menghabiskan seluruh umur.” Ibnu Jarir berkata, “La haula wala quwwata illa billah, semangat sudah mati.” Apa yang akan dikatakan Ibnu Jarir jika menjumpai masa kita ini, yang seseorang tidak dapat memaksa dirinya menulis atau menghafal tiga puluh ribu lembar. Keharusan kita untuk belajar ilmu syar’I karena ilmu ini termasuk bagian dari syari’at Allah dan juga warisan para nabi yang diberikan kepada kita. Adalah hak Beliau atas kita untuk menjaga warisannya dari kebinasaan dan kepunahan.
Cerita tentang para ulama dan para imam yang mendapat petunjuk adalah sarana terbesar untuk menanamkan keutamaan dalam jiwa demi mengobarkan semangat dan memotivasi untuk kebaikan dan ketakwaan. Ibnu Katsir bercerita tentang dirinya ketika beliau sedang menulis kitabnya “jami’ul masaanied”, “Konon aku terus menerus menulisnya dimalam hari, sedang cahaya pelita yang menerangiku terang-redup hingga akupun menjadi buta karenanya. Ja’far bin Durustuwaih berkata, “ Kami mengambil tempat duduk karena terlalu padat di sebuah majelis Ali bin Al-Madini waktu Ashar untuk kajian esoknya. Kami menempatinya sepanjang malam karena khawatir esoknya tidak mendapat tempat untuk mendengarkan kajiannya karena penuh sesaknya manusia. Saya melihat seseorang yang sudah tua di majelis tersebut kencing dijubahnya karena khawatir tempat duduknya diambil apabila ia berdiri untuk kencing.”
Ibnu Asakir ketika menyebutkan biografi seorang yang shaleh Abu manshur Muhammad bin Husain An-Naisbury berkata, “Beliau orang yang selalu giat dan semangat dalam belajar, meski dalam keadaan fakir. Sampai-sampai beliau menulis pelajarannya dan mengulangi membacanya dibawah cahaya rembulan karena tidak punya sesuatu untuk membeli minyak tanah. Walaupun beliau dalam kedaan fakir, namun beliau selalu hidup wara’ dan tidak mengambil harta yang syubhat sekalipun.
Kisah mengenai perjuangan para ulama dalam menuntut ilmu sungguh bagaikan cerita fiksi atau dongeng bagi kita saat ini karena beratnya perjalanan menuntut ilmu dan sulitnya kondisi mereka sehingga kita berpikir seolah-olah hal itu tidak mungkin terjadi pada orang-orang saat ini. Terbatasnya fasilitas baik alat komunikasi dan transportasi tidak menyurutkan motivasi mereka untuk menuntut ilmu sebagaimana perjuangan yang dilakukan oleh Sa’id bin Musayyab. Beliau berkata, “Sesungguhnya aku pernah berjalan berhari-hari dan bermalam-malam untuk mencari satu hadits.” Renungkanlah bagaimana perjuangan Imam Syafi’I yang terus bersemangat menuntut ilmu walaupun beliau hidup dalam kesulitan materi.
Imam Syafi’I menceritakan kisahnya, “Dahulu aku menyimak guru yang mengajarkan para muridnya dan aku menghafal apa yang dikatakannya. Sedangkan ibuku tidak punya apa-apa untuk membayar guru. Aku adalah seorang anak yatim. Guruku itu juga membolehkanku untuk ikut bersamanya. Para murid menulis. Sebelum guru tersebut selesai dari mendiktekan, aku telah terlebih dahulu menghafalkan apa yang aku tulis. Setelah pulang, aku mengutip tembikar, pelepah kurma dan tulang unta. Aku menulis hadits padanya dan aku pergi ke tempat belajar sambil mencari sisa-sisa kertas dan aku menyalinnya hingga penuh gentong milik ibuku dengannya.
Bayangkan! Imam syafi’I yang seorang yatim, miskin, yang hanya mampu menulis diatas sisa-sisa kertas, tulang dan pelepah kurma namun segala keterbatasan tersebut tidak membuat beliau mengeluh, putus asa dan berdiam diri dari menuntut ilmu. Perjuangan yang tak kenal lelah itu telah menjadikan beliau sebagai seorang yang memiliki ilmu yang mendalam hingga akhirnya beliau menjadi Imam kaum Muslimin, Para ulama terdahulu melakukan perjalanan jauh hingga mengelilingi negeri-negeri yang jauh untuk menuntut ilmu. Motivasi yang rendah takkan mampu menggerakkan tubuhnya walau hanya selangkah. Motivasi yang rendah hanya menjadikan dirinya santai berbaring diatas ranjang, malas melakukan aktivitas dan hanya melamun memimpikan kesenangan dialam bawah sadarnya.
Motivasi yang tinggi telah mendorong Imam Ibn Mandah untuk mengelilingi timur dan barat sebanyak dua kali. Beliau melakukan perjalanan menuntut ilmu dalam jangka waktu yang lama. Imam Ibn Mandah pergi menuntut ilmu ketika berumur 20 tahun dan kembali ketika berumur 65 tahun. Lama perjalanan menuntut ilmu beliau selama 45 tahun. Imam Ibn Mandah kembali ke negerinya setelah tua dan dia baru menikah ketika berumur 65 tahun. Kecintaan para ulama pada ilmu syar’I meyebabkan mereka rela untuk lelah berjalan, menahan lapar dan dahaga.
Imam Bukhari bercerita tentang keadaannya ketika menuntut ilmu, “Suatu ketika aku pergi mengunjungi Adam bin Abi Iyas di ‘Asqalan, namun uang belanjaku tidak kunjung datang hingga aku terpaksa memakan rerumputan dan tidak seorangpun yang tahu hal itu. Hingga memasuki hari ketiga, tiba-tiba ada seorang lelaki tidak dikenal yang mendatangiku lalu memberiku sekantung uang dinar, sambil berkata, “Pergunakanlah uang ini untuk mencukupi kebutuhanmu.”
Simaklah pula kisah Abu Hatim yang mengisahkan segala ujian berat yang beliau hadapi selama menuntut ilmu, “Pada tahun 214 H aku menetap dikota Basrah selama delapan bulan dan aku telah merencanakan untuk menetap selama setahun penuh, namun aku kehabisan bekal hingga aku terpaksa menjual pakaianku satu per satu hingga tidak ada lagi yang tersisa bagiku. Akupun tetap berkeliling dengan seorang sahabatku mendatangi rumah para syaikh dan mendengarkan hadits dari mereka hingga sore. Setelah itu, temankupun beranjak dan aku pulang sendirian kesebuah rumah kosong, lalu aku cepat-cepat minum air karena begitu laparnya. Keesokan harinya, aku kembali berkeliling dengan sahabatku untuk mendengarkan hadits dalam keadaan lapar berat. Sampai ia beranjak dan aku berpisah dengannya. Keesokan harinya, sahabatku itu datang lagi kepadaku lalu mengatakan, “Ayo kita pergi mendatangi para syaikh.” Maka jawabku, “Aku sudah lemas tidak sanggup lagi..” Ia bertanya, “Kenapa?” Maka jawabku, “Aku akan berterus terang padamu; sudah dua hari berlalu dan aku belum makan sesuap pun.” Maka katanya, “Ini masih ada satu dinar, akan kuberikan setengahnya padamu atau yang setengahnya lagi kau ambil sebagai upah.” Maka kamipun meninggalkan kota Basrah setelah kuambil darinya setengah dinar.”
Begitu cintanya para ulama terdahulu pada ilmu syar’I hingga mereka rela mengorbankan jiwa dan raga karena bagi mereka ilmu syar’I merupakan harta yang sangat berharga dan permata yang mahal. Ketika para salaf memahami hal ini, mereka merasa rugi jika tidak mendapatkannya atau bersedih karena kehilangan sesuatu yang berkaitan dengan ilmu syar’i. Sebagaimana mereka merasa rugi karena kehilangan anak, istri dan hartanya. Abu Ali Al-Farisi berkata, “pernah terjadi kebakaran di Baghdad yang menghanguskan semua kitab saya, Padahal saya menuliskannya dengan tangan saya sendiri. Selama dua bulan saya tidak bisa berbicara dengan seorangpun karena diselimuti rasa sedih dan bingung. Saya terus menerus sedih dan bingung.”
Mempelajari perjuangan para ulama dalam menuntut ilmu akan menyalakan semangat yang padam kembali membara. Perjuangan mereka yang tak kenal lelah dan segala keterbatasan mereka baik moril maupun materil dalam menuntut ilmu telah menjadikan mereka sebagai orang-orang yang mulia dari kalangan kaum Muslimin hingga saat ini. Para ulama salaf telah memberikan contoh yang baik dan teladan yang agung tentang bagaimana bersemangat dalam menuntut ilmu, meraihnya serta merindukannya. Mereka mengembara keluar dari negerinya dengan membawa bekal seadanya dan meninggalkan kenikmatan berkumpul bersama keluarga untuk berburu ilmu pada para ulama tanpa mengenal batas dimensi ruang dan waktu.
Kisah-kisah para ulama ketika menuntut ilmu merupakan pelajaran bagi kita sebagaimana dalam firman Allah, “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Yusuf: 111)
Jika motivasi kita mulai melemah ketika menuntut ilmu, maka ada baiknya kita menengok kisah-kisah para ulama besar sehingga menumbuhkan kembali motivasi kita dalam menuntut ilmu syar’I.
(Panduan Lengkap menuntut ilmu, Syaikh Muhammad Ibn Shaleh Al-Utsaimin; Pustaka Ibn Katsir. 102 Kiat Agar Semangat Belajar Membara, Abul Qa’qa Muhammad bin Shalih alu Abdillah; Elba. Langkah Pasti Menuju Bahagia, Dr. Abdul Muhsin bin Muhammad Al-Qasim; Daar An-Naba) "http://jiwang.org/groups-ilmiah/32900-panduan-ilmu-motivasi-belajar-ilmu-syar-i.html"
Minggu, 08 Mei 2011
Tau nggak,sobat…..Dalam sejarah tecatat sebagian besar nabi melakukan pekerjaan sebagai sumber nafkah dengan berwiraswasta.So,kebanyakan nabi adalah seorang pengusaha.Sampai ada hadist yg khusus bicara tentang hal tersebut.
“Tidak ada yg lebih baik bagi seseorang yang makan sesuatu mkanan, selain makan dari usahanya.Dan sesungguhnya Nabiyullah Daud a.s.,selalu makan dari hasil usahanya.”(HR.Bukhari)
Memang sih,tidak semua orang di wajibkan menjadi pengusaha.Yang terpenting adalah mencari nafkah halal yang di gunakan untuk kepentingan yang halal pula.Tetapi perlu diingat pula bahwa 99 dari 100 pintu rezeki datangnya kepada pedagang.
So,kalau kita hnya jadi pegawai atau staff jngan ngiri sma kita yang berdagang alias jadi pengusaha ya!
Mau tau pekerjaan para Nabi?ini dia……….
DAUD A.S.
Nabi Daud a.s. adalah perajin kurma yang gigih dalam bekerja. Saat beliau melakukan khotbah beliau dengan bangganya menyatakan dirinya sbagai seorang pengusaha dalam bidang industri daun kurma yang dengan ketekunan dan kerajinannya di permak menjadi keranjang.Dan dengan semangatnya beliau mendorong pada para pengangguran agar mau bekerja memasarkan hasil kerajinan yang beliau buat. Oow,jadi Nabi Daud yang juga seorang raja ini pengusaha keranjang,yaa……….
ZAKARIA A.S
Nabi Zakaria a.s adalah tukang kayu yang super kreatif dan memperoleh nafkah dari tangannya yang cekatan. Asyik kali ya,kalau kita masuk ke rumah nabi Zakaria. Mungkin rumah beliau penuh dengan ukiran dan mebel yang oke punya,he…he…bisa pesan,dong buat rumah kita..
IDRIS A.S
Nabi Idris a.s adalah seorang desainer! Sssh,jangan bayangkan bila beliau seperti Yves Saint Laurent atau Ermenegildo Zegna.eeehm jauuh dari sori yee…jika di bandingkan.Beliau memiliki keterampilan di dunia ‘tata busana’ (Mungkin itu bahasanya zaman sekarang ?!) alias menjadi penjahit yang selalu menyisihkan sisa hasil usahanya untuk di beri kepada fakir miskin.
ADAM A.S
Sementara nenek moyang kita ,Nabi Adam a.s adalah petani yang sangat gigih dalam berusaha.Kalau nabi yang satu ini, mau gk mau harus mandiri. Yaahh,bagaimana beliau melamar pekerjaan yah?! Melamar kepada siapa dan di zaman itu apa ada orang yang memiliki perusahaan?! Wong,beliau adalah manusia pertama yang ada di muka bumi ini. Lagipula, Allah SWT berfirman :
Dialah Dzat yang menjadikan bumi itu mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian rezeki-Nya.Dan hnya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) di bangkitkan.(Al-Mulk: 15)
Sedangakan di dalam firman Allah yang lain:
Dan kami jadikan kepadanya Kebun-Kebun kurma dan anggur kami pancarkan padanya beberapa mata air,supaya mreka dapat makan dari buahnya,dan dari apa yang di usahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur? (Yaasiin: 34-35)
Nah…asyikan? Ternyata para nabi kita adalah direktur yang sukses Lho. Namun, meskipun para nabi menjadi pengusaha,bekerja mandiri alias tidak “ikut” dengan orang lainl, yang berarti memiliki kebebasan financial yang tinggi, tetapi mereka hidup dengan sederhana. Kelebihan dari hasil usahanya, setelah mereka menggunakan utuk memnuhi kebutuhannya sehari-hari dan menafkahi kluarga,mereka sedekahkan kepada orang lain yang lebih memerlukan.
Beda jauhlah dengan pengusaha tanggung di Indonesia,baru mereka tender sekali saja gayanya sudah jor-joran (emang gk smuanya lho!) satu lagi yang perlu di‘catat’, para nabi tidak pernah berutang dalam mengembangkan usahanya menjadi perusahaan multinational atau konglomerat. So,gk ada tuh istilahnya kredit mancet segala.
Sejak tadi kita berbicara tentang konglomerat laki-laki. Mana dong yang wanita? Ada nih contohnya ………..Ibunda Khadijah R.A yang kaya raya dan mulia beliau adalah pengusaha wanita sukses yang memiliki pegawai yang sempurna dan pegawai sempurna itulah Nabi Muhammad Saw. Yang dengan tekun,rajin,dan jujur menjalankan usaha Khadijah R.A
Dengan Kesuksesan dan kekayaannya,Beliau tidaklah lantas menjadi serakah, beruntung dan mengembangkan usahanya dengan membabi buta atau yang penting utang .tak peduli orang lain susah. Justru beliau menyalurkan harta kekayaannya di jalan yang di Ridhoi Allah SWT. Pengusaha wanita sukses di jamannya tidak merasa kewatir jidup susah setelah menikah dengan pegawainya yang tk lain adalah Nabi Muhammad SAW pedagang yang sempurna itu.
So,apakah yang kalian pilih,pengelola industri atau pedagangnya……?! Itulah yang di harapkan! Keduanya sama-sama berusaha mandiri, proses wiraswasta pertama kali adalah barang atau jasa yang kemudian di perdagangkan. Jadi,seseorang boleh lebih aktif di salah satunya, misalnya kalu dapat memproduksi suatu benda tersebut di perdagangkan oleh orang lain. Bleh juga kamu aktif menjualkan produk karya orang lain yang bekerja sma denganmu. Idelanya, sebaiknya kita dapat melakukan segalanya dalam upaya menjadi pengusaha sukses dan berkualitas.
“Sebaik-baiknya usaha seseorang adalah usaha dengan tangannya sendiri. Dan setiap jual beli adalah baik”(HR. Ahmad,Tabrani,dan Hakim)
Berwiraswasta sangat di anjurkan oleh agama islam. Maka nggak ada salahnya kita ‘banting setir’ rame-rame jadi pengusaha (pengusaha yang baik). Bercita-cita menjadi pngusaha masa depan (InsyaAllah) masa depan nggak bakalan suram. Yang penting niatnya baik,di jalankan dengan baik dan tentu saja hasilnya akan baik
Zaman sekarang contoh pengusaha muslim sukses juga da’I yang sukses adalah Aa’Gym. Beliau seorang pengusaha yang menjalankan berbagai usaha sekaligus pendakwah yang memiliki audience berjuta-juta. Usahanyapun (konon) menghasilkan keuntungan yang bermilyaran rupiah, padahal beliau memulai usaha kecil seberti mini market ,Wartel,took buku,dan sekarang pnya penerbitan sendiri,serta beragam usaha lainya.
Nah dengan demikian Cita-cita masa kecil “berguna bagi nusa,bangsa,dan agama”mudah-mudahan dapat di capai sekaligus!
Nggk usah takut terlalu muda jadi pengusaha.Nabi Muhammad saw memulai usahanya sejak beliau sangat muda. Usia 25 tahun beliau sudah sukses. Bagaimana dengan kamu??? hehehehehe,-
http://edwinprayoga.wordpress.com
Selasa, 26 April 2011
Karena Aku Mencintaimu
Wahai Ukhty…
Karena aku mencintaimu, maka aku ingin menjagamu
Karena aku mencintaimu, aku tak ingin terlalu dekat denganmu
Karena aku mencintaimu, aku tak ingin menyakitimu
Karena cintaku padamu,
Tak akan kubiarkan cermin hatimu menjadi buram
Tak akan kubiarkan telaga jiwamu menjadi keruh
Tak akan kubiarkan perisai qolbumu menjadi retak, bahkan pecah
Karena cinta ini,
Ku tak ingin mengusik ketentraman batinmu,
Ku tak ingin mempesonamu,
Ku tak ingin membuatmu simpati dan kagum,
Atau pun menaruh harap padaku.
Maka biarlah…
Aku bersikap tegas padamu,
Biarlah aku seolah acuh tak memperhatikanmu,
Biarkan aku bersikap dingin,
Tidak mengapa kau tidak menyukai aku,
Bahkan membenciku sekali pun, tidak masalah bagiku….
Semua itu karena aku mencintaimu,
Demi keselamatanmu,
Demi kemuliaanmu.
Selengkapnya klik di sini
Minggu, 24 April 2011
Dan diantara dampak dari kemaksiatan, bahwa seorang pelaku maksiat senantiasa berada di dalam tawanan syaithannya dan penjara syahwatnya serta ikatan-ikatan hawa nafsunya. Maka dia tertawan, terpenjara dan terikat. Dan tidak ada tawanan yang paling buruk keadaannya daripada tawanan yang ditawan musuh utamanya. Dan tidak ada penjara yang paling sempit daripada penjara hawa nafsu. Dan tidak ada ikatan yang paling sulit dilepas daripada ikatan syahwat.
Maka bagaimana bisa berjalan menuju Allah dan negeri akhirat, hati yang tertawan, terpenjara dan terbelenggu?! Dan bagaimana bisa dia melangkah walau selangkah?!
Dan apabila hati terbelenggu, kebinasaan kerap menghampirinya dari segala macam arah, sebesar ikatan-ikatannya. Dan hati itu bagaikan burung semakin tinggi dia (terbang) semakin menjauh dari kebinasaan, dan semakin rendah (dia terbang), kebinasaan akan menyergapnya.
Dan di dalam hadits: “Syaithan adalah serigalanya manusia”. Sebagaimana domba yang tidak dijaga yang berada diantara serigala-serigala akan cepat diterkam, begitu pula halnya seorang hamba, apabila dia tidak memiliki penjaga dari Allah maka serigalanya pasti menerkamnya. Dan seorang hamba mendapat penjagaan dari Allah adalah dengan ketakwaan. Ia merupakan pelindung dan tameng yang kokoh antara dia dengan serigalanya, sebagaimana ketakwaan juga sebagai pelindung antara dia dengan hukuman dunia dan akhirat.
Dan semakin dekat seekor domba dengan penggembalanya, semakin dia selamat dari serigala. Dan semakin dia menjauh maka semakin dekat kepada kebinasaan. Maka yang paling selamat bagi domba adalah apabila ia mendekat dengan penggembalanya, karena serigala hanya menerkam domba yang menyendiri dan jauh dari penggembalanya.
Inti dari ini semua adalah semakin jauh hati seseorang dari Allah maka kebinasaan semakin cepat menghampirinya. Dan semakin dekat hati seseorang kepada Allah, kebinasaan akan menjauhinya.
Dan kejauhan dari Allah bertingkat-tingkat, sebagiannya lebih berbahaya dari yang lain. Kelalaian menjauhkan hati dari Allah, dan jauhnya kemaksiatan lebih besar dari jauhnya kelalaian. Dan jauhnya bid’ah lebih besar dari jauhnya kemaksiatan. Dan jauhnya kemunafikan dan kesyirikan lebih besar dari jauhnya itu semua.
[https://tobatmaksiat.wordpress.com/2011/01/28/kemaksiatan-menggiring-pelakunya-kepada-penjara-syaithan-2/]
Maka bagaimana bisa berjalan menuju Allah dan negeri akhirat, hati yang tertawan, terpenjara dan terbelenggu?! Dan bagaimana bisa dia melangkah walau selangkah?!
Dan apabila hati terbelenggu, kebinasaan kerap menghampirinya dari segala macam arah, sebesar ikatan-ikatannya. Dan hati itu bagaikan burung semakin tinggi dia (terbang) semakin menjauh dari kebinasaan, dan semakin rendah (dia terbang), kebinasaan akan menyergapnya.
Dan di dalam hadits: “Syaithan adalah serigalanya manusia”. Sebagaimana domba yang tidak dijaga yang berada diantara serigala-serigala akan cepat diterkam, begitu pula halnya seorang hamba, apabila dia tidak memiliki penjaga dari Allah maka serigalanya pasti menerkamnya. Dan seorang hamba mendapat penjagaan dari Allah adalah dengan ketakwaan. Ia merupakan pelindung dan tameng yang kokoh antara dia dengan serigalanya, sebagaimana ketakwaan juga sebagai pelindung antara dia dengan hukuman dunia dan akhirat.
Dan semakin dekat seekor domba dengan penggembalanya, semakin dia selamat dari serigala. Dan semakin dia menjauh maka semakin dekat kepada kebinasaan. Maka yang paling selamat bagi domba adalah apabila ia mendekat dengan penggembalanya, karena serigala hanya menerkam domba yang menyendiri dan jauh dari penggembalanya.
Inti dari ini semua adalah semakin jauh hati seseorang dari Allah maka kebinasaan semakin cepat menghampirinya. Dan semakin dekat hati seseorang kepada Allah, kebinasaan akan menjauhinya.
Dan kejauhan dari Allah bertingkat-tingkat, sebagiannya lebih berbahaya dari yang lain. Kelalaian menjauhkan hati dari Allah, dan jauhnya kemaksiatan lebih besar dari jauhnya kelalaian. Dan jauhnya bid’ah lebih besar dari jauhnya kemaksiatan. Dan jauhnya kemunafikan dan kesyirikan lebih besar dari jauhnya itu semua.
[https://tobatmaksiat.wordpress.com/2011/01/28/kemaksiatan-menggiring-pelakunya-kepada-penjara-syaithan-2/]
Seorang yang pernah melakukan dosa seberapa pun besarnya, pastilah akan diampuni Allah SWT, selama dia mau bertaubat dengan memenuhi syarat-syaratnya.
Alih-alih marah kepada orang yang bertaubat, Allah SWT malah sangat berbahagia kepadanya.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
وعن أبي حمزةَ أنسِ بنِ مالكٍ الأنصاريِّ- خادِمِ رسولِ الله قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله: للهُ أفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ سَقَطَ عَلَى بَعِيرهِ وقد أضلَّهُ في أرضٍ فَلاةٍ مُتَّفَقٌ عليه
Dari Abi Hamzah Anas bin Malik Al-Anshari ra (pembantu Rasulullah SAW) berkata, "Sungguh Allah sangat berbahagia atas permohonan taubat hamba-Nya, lebih berbahagia dari bahagianya salah seorang kamu yang kehilangan untanya lalu menemukannya kembali." (HR Bukhari Muslim).
Di dalam kesempatan lain, Rasullah SAW juga bersabda:
وعن أبي موسَى عبدِ اللهِ بنِ قَيسٍ الأشْعريِّعن النَّبيّ ،قَالَ: إنَّ الله تَعَالَى يَبْسُطُ يَدَهُ بالليلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ ، ويَبْسُطُ يَدَهُ بالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيلِ ، حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِها رواه مسلم
Dari Abi Musa Abdullah bin Qais Al-Asy'ari ra. dari nabi SAW, beliau bersabda, "Sungguh Allah SWT menjulurkan kedua tangan-Nya pada malam hariorang-orang yang bermaksiat di waktu siang bertaubat. Dan Allah SWT menjulurkan kedua tangan-Nya pada sianghari orang-orang yang bermaksiat di waktu malam bertaubat." (HR Muslim)
Di dalam hadits riwayat Imam Muslim disebutkan bahwa tatkala selesai mengeksekusi mati seorang wanita yang mengaku telah berzina, Rasulullah SAW kemudian menyalati jenazahnya. Umar ra bingung dan kontan mempertanyakannya, "Bagaimana Anda menshalati jenazahnya padahal dia seorang yang telah berzina?" Beliau SAW menjawab, "Sungguh wanita ini telah bertaubat dengan sebuah taubat yang bila taubatnya itu dibagikan kepada 70 orang penduduk Madinah, pasti masih sangat cukup untuk mereka."
Subhanalllah, sungguh besarkeagungan-Nya. Dosa sebesar apapun bila seorang hamba datang kepada-Nya untuk bertaubat, pasti Allah berikan.
Bahkan dosa membunuh 100 nyawa sekalipun, tetap akan diberi ampunan dari Yang Maha Pengampun. Asalkan semua syaratnya dijalankan.

Dalam Hadits Qudsi disebutkan:
”Hai hamba-hambaKu, sesungguhnya kalian selalu berbuat dosa pada malam dan siang hari, sedang Aku mengampuni dosa-dosa semuanya. Oleh karena itu, mohonlah ampun kepadaKu, niscaya aku akan mengampuni kalian.” (HR.Muslim)
”Hai anak Adam, selama kalian berdoa dan berharap kepadaKu, niscaya aku akan memberi ampunan kepada kalian atas semua dosa yang kalian lakukan tanpa Kupedulikan. Hai anak Adam, seAndainya dosa-dosamu mencapai langit, kemudian kalian memohon ampun kepadaMu, niscaya Aku akan mengampuni semua dosa yang telah kalian lakukan tanpa Kupedulikan. Hai anak Adam, seAndainya kalian datang kepadaKu dengan membawa dosa-dosa sepenuh bumi, kemudian kalian datang tanpa mempersekutukanku Aku dengan sesuatu pun, niscaya Aku akan datang dengan membawa ampunan sepenuh bumi.” (HR Tirmidzi)
Sebagaimana firman Allah : ”sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan dosa perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang yang ingat.” (QS Huud :114)
Alih-alih marah kepada orang yang bertaubat, Allah SWT malah sangat berbahagia kepadanya.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
وعن أبي حمزةَ أنسِ بنِ مالكٍ الأنصاريِّ- خادِمِ رسولِ الله قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله: للهُ أفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ سَقَطَ عَلَى بَعِيرهِ وقد أضلَّهُ في أرضٍ فَلاةٍ مُتَّفَقٌ عليه
Dari Abi Hamzah Anas bin Malik Al-Anshari ra (pembantu Rasulullah SAW) berkata, "Sungguh Allah sangat berbahagia atas permohonan taubat hamba-Nya, lebih berbahagia dari bahagianya salah seorang kamu yang kehilangan untanya lalu menemukannya kembali." (HR Bukhari Muslim).
Di dalam kesempatan lain, Rasullah SAW juga bersabda:
وعن أبي موسَى عبدِ اللهِ بنِ قَيسٍ الأشْعريِّعن النَّبيّ ،قَالَ: إنَّ الله تَعَالَى يَبْسُطُ يَدَهُ بالليلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ ، ويَبْسُطُ يَدَهُ بالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيلِ ، حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِها رواه مسلم
Dari Abi Musa Abdullah bin Qais Al-Asy'ari ra. dari nabi SAW, beliau bersabda, "Sungguh Allah SWT menjulurkan kedua tangan-Nya pada malam hariorang-orang yang bermaksiat di waktu siang bertaubat. Dan Allah SWT menjulurkan kedua tangan-Nya pada sianghari orang-orang yang bermaksiat di waktu malam bertaubat." (HR Muslim)
Di dalam hadits riwayat Imam Muslim disebutkan bahwa tatkala selesai mengeksekusi mati seorang wanita yang mengaku telah berzina, Rasulullah SAW kemudian menyalati jenazahnya. Umar ra bingung dan kontan mempertanyakannya, "Bagaimana Anda menshalati jenazahnya padahal dia seorang yang telah berzina?" Beliau SAW menjawab, "Sungguh wanita ini telah bertaubat dengan sebuah taubat yang bila taubatnya itu dibagikan kepada 70 orang penduduk Madinah, pasti masih sangat cukup untuk mereka."
Subhanalllah, sungguh besarkeagungan-Nya. Dosa sebesar apapun bila seorang hamba datang kepada-Nya untuk bertaubat, pasti Allah berikan.
Bahkan dosa membunuh 100 nyawa sekalipun, tetap akan diberi ampunan dari Yang Maha Pengampun. Asalkan semua syaratnya dijalankan.

Dalam Hadits Qudsi disebutkan:
”Hai hamba-hambaKu, sesungguhnya kalian selalu berbuat dosa pada malam dan siang hari, sedang Aku mengampuni dosa-dosa semuanya. Oleh karena itu, mohonlah ampun kepadaKu, niscaya aku akan mengampuni kalian.” (HR.Muslim)
”Hai anak Adam, selama kalian berdoa dan berharap kepadaKu, niscaya aku akan memberi ampunan kepada kalian atas semua dosa yang kalian lakukan tanpa Kupedulikan. Hai anak Adam, seAndainya dosa-dosamu mencapai langit, kemudian kalian memohon ampun kepadaMu, niscaya Aku akan mengampuni semua dosa yang telah kalian lakukan tanpa Kupedulikan. Hai anak Adam, seAndainya kalian datang kepadaKu dengan membawa dosa-dosa sepenuh bumi, kemudian kalian datang tanpa mempersekutukanku Aku dengan sesuatu pun, niscaya Aku akan datang dengan membawa ampunan sepenuh bumi.” (HR Tirmidzi)
Sebagaimana firman Allah : ”sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan dosa perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang yang ingat.” (QS Huud :114)

Seorang pemuda bercerita kepadaku:
Aku memiliki seorang teman, dia adalah seorang pemuda yang suka hura-hura dan termasuk seorang pemuda yang memiliki hubungan percintaan dengan seorang wanita. Aku masih ingat, setelah aku selesai dari sekolahku aku menganggur beberapa waktu di rumah.
Dan pada suatu hari dari tahun ajaran baru, aku didatangi oleh temanku tersebut pada pagi hari; pada waktu jam sekolah. Aku mempersilahkannya untuk duduk di ruang tamu, lalu aku pergi hendak membuatkan teh. Ketika aku melihat keluar aku tidak mendapatkan mobilnya. Maka aku bertanya:’Wahai fulan, dimana mobilmu?’, maka dia menjawab:AKu sembunyikan disebelah rumahmu. Akupun merasa keheranan dari tingkah lakunya ini. Lalu aku berkata:Memang kenapa tidak engkau parkir saja di depan rumah? Dia berkata: Aku membawa seorang pacar baru!! Aku berkata lagi: Lalu kenapa engkau bawa kemari? Dia menjawab:Dia adalah seorang pelajar di sebuah sekolahan, aku membawanya semenjak jam mask sekolah, dan aku sekarang sedang menunggu saat bel keluar sekolah, saat itulah aku akan turunkan dia di depan sekolahan, lalu dia naik bus sekolah, seakan-akan dia pulang sekolah.
Aku meminta izin darinya, seakan-akan aku akan masuk rumah, lalu aku keluar ke samping rumah menuju ke mobilnya. Dan ketika aku sampai di mobilnya, ternyata ada seorang gadis yang masih bau kencur di dalamnya, belum sampai berumur lima belas tahun!! Maka aku berkata kepadanya – dan aku sangat kasihan terhadapnya, karena umurnya yang terlalu muda dan karena bodohnya dia akan apa yang diinginkan darinya pada permainan nista ini – : Apa yang menyebabkan engkau datang kemari?
Dia berkata: Sesungguhnya fulan mencintaiku dan menjanjikan untuk menikahiku.
Maka aku berkata kepadanya: Perhatikan baik-baik kata-kataku:”Walaupun dia adalah temanku dan aku terikat oleh tali persahabatan yang erat, akan tetapi ini semua tidak menghalangiku untuk memberikan nasehat, kalau engkau terima dan kalau tidak, ya terserah…
Ingat kepercayaan yang diberikan oleh keluargamu, sehingga mereka tidak mengwasimu dengan ketat. Dan ingatlah akan jeleknya perbuatan yang sedang engkau lakukan, serta ketahuilah baik-baik bahwasannya engkau sedang dalam bahaya. Karena temanku sama sekali tidak memiliki pikiran untuk menikahimu (karena kami para pemuda, apabila mendapatkan gadis yang seperti kamu, tidak pernh berangan-angan untuk menjadikannya sebagai istri. Karena wanita yang sudah berani pergi bersama seorang pemuda asing darinya, serta telah mencabik-cabik tirai keluarganya, tidak pantas untuk dijadikan seorang istri.Mungkin saja dia akan melakukan hal yang sama dengan pria lain)…Kata-kataku ini hendaknya engkau pikirkan baik-naik, dan terserah kamu…
Lalu dia berkata: Setelah beberapa lama, kejadian yang sama terulang lagi dan aku di datangi oleh temanku, maka aku bertanya kepadanya: Apakah dia kali ini bersamamu? Dia menjawab: Ya.
Maka akupun keluar menemuinya lagi dan mengatakan kepadanya: Engkau belum mau memahami juga apa yang aku katakana kepadamu kala itu?! Aku memberikan peringatan kepadamu yang terakhir kali dari jalan yang negkau tempuh; Engkau sungguh dalam bahaya, dan kalau engkau bisa lolos kali ini engkau tidak akan bisa lolos pada masa yang akan datang. Dia akan merenggut darimu apa yang dia inginkan, lalu mencampakkanmu di pinggir jalan. Engkau akan merintih kesakitan, malu, dan tercemar seumur hidup.
Dia menjawab: Dia sangat mencintaiku dan akan menikahiku. Maka aku katakana kepadanya: ENgkau sangat dungu, dan tidak pantas untuk menjadi seorang istri, kelak engkau akan ingat kata-kataku ini!!!
Kejadian itu telah berlalu begitu lama, aku sampai lupa akan gadis tersebut, bahkan aku lupa sama sekali kejadian tersebut dan aku juga tidak tahu apa yang dialami oleh gadis tersebut setelah kejadian itu.
Pada suatu hari, aku didatangi oleh anak salah seorang tetangga, dan dia berkata: Surat ini dibawa oleh saudariku dari salah seorang temannya dalam bus, dan dia mengatakan: Tolong sampaikan surat ini kepada fulan!! Terus terang saja, aku sangat kaget dengan perlakuan ini dan aku merasa tidak percaya dari kejadian ini. Akan tetapi rasa heranku hilang ketika aku membuka surat itu. Ternyata surat itu adalah surat dari gadis itu, dia mengatakan:
“Aku sangat berterima kasih atas nasehatmu yang sangat berharga. Benar, apa yang engkau katakan kepadaku hampir saja terjadi. Pada kesempatan terakhir, ketika akukeluar rumah bersama lelaki bejat itu, dia berusaha untuk merenggut mahkota paling berharga yang aku miliki, lalu aku menangis sejadi-jadinya dan aku meminta darinya untuk mengembalikanku ke sekolah.
Setelah aku menangis dan mendesaknya serta meminta darinya dengan sangat, dia mengantarku ke sekolahan yang dia menjemputku darinya…Benar…hampir saja aku kehilangan kehormatanku, dan hampir saja aku menjadi korban permainan hina tersebut, dan hampir saja aku menjerumuskan kepalaku dan kepala keluargaku ke dalam lumpur…akan tetapi Allah menyelamatkanku…”.
[https://tobatmaksiat.wordpress.com/kisah-maksiat/hampir-saja-aku-terjerumus/]
Selasa, 05 April 2011
Daniel Streich, politikus Swiss, yang tenar karena kampanye menentang pendirian masjid di negaranya, tanpa diduga-duga, memeluk Islam.
Streich merupakan seorang politikus terkenal, dan ia adalah orang pertama yang meluncurkan perihal larangan kubah masjid, dan bahkan mempunyai ide untuk menutup masjid-masjid di Swiss. Ia berasal dari Partai Rakyat Swiss (SVP). Deklarasi konversi Streich ke Islam membuat heboh Swiss.
Streich mempropagandakan anti-gerakan Islam begitu meluas ke seantero negeri. Ia menaburkan benih-benih kemarahan dan cemoohan bagi umat Islam di Negara itu, dan membuka jalan bagi opini publik terhadap mimbar dan kubah masjid.
Tapi sekarang Streich telah menjadi seorang pemeluk Islam. Tanpa diduganya sama sekali, pemikiran anti-Islam yang akhirnya membawanya begitu dekat dengan agama ini. Streich bahkan sekarang mempunyai keinginan untuk membangun masjid yang paling indah di Eropa di Swiss.
Yang paling menarik dalam hal ini adalah bahwa pada saat ini ada empat masjid di Swiss dan Streich ingin membuat masjid yang kelima. Ia mengakui ingin mencari “pengampunan dosanya” yang telah meracuni Islam. Sekarang adalah fakta bahwa larangan kubah masjid telah memperoleh status hukum.
Abdul Majid Aldai, presiden OPI, sebuah LSM, bekerja untuk kesejahteraan Muslim, mengatakan bahwa orang Eropa sebenarnya memiliki keinginan yang besar untuk mengetahui tentang Islam. Beberapa dari mereka ingin tahu tentang hubungan antara Islam dan terorisme; sama halnya dengan Streich. Ceritanya, ternyata selama konfrontasi, Streich mempelajari Alquran dan mulai memahami Islam.
Streich adalah seorang anggota penting Partai Rakyat Swiss (SVP). Ia mempunyai posisi penting dan pengaruhnya menentukan kebijakan partai. Selain petisinya tentang kubah masjid itu, ia juga pernah memenangkan militer di Swiss Army karena popularitasnya.
Lahir di sebuah keluarga Kristen, Streich melakukan studi komprehensif Islam semata-mata untuk memfitnah Islam, tapi ajaran Islam memiliki dampak yang mendalam pada dirinya. Akhirnya ia malah antipati terhadap pemikirannya sendiri dan dari kegiatan politiknya, dan dia memeluk Islam. Streich sendiri kemdian disebut oleh SVO sebagai setan.
Dulu, ia mengatakan bahwa ia sering meluangkan waktu membaca Alkitab dan sering pergi ke gereja, tapi sekarang ia membaca Alquran dan melakukan salat lima waktu setiap hari. Dia membatalkan keanggotaannya di partai dan membuat pernyataan publik tentang ia masuk Islam. Streich mengatakan bahwa ia telah menemukan kebenaran hidup dalam Islam, yang tidak dapat ia temukan dalam agama sebelumnya. (sa/iol)
***
Artikel Islam dari eramuslim.com
Jumat, 30 Juli 2010
inilah sebuah inspirasi bagi saya..
dimana tulisan ini di tagg oleh sahabat saya bernama Zulfikri Azami..
semoga tulisan ini juga memberi kita cahaya..
Rajawali
Rajawali merupakan jenis unggas yg mempunyai umur paling panjang di dunia, dpt mencapai 70 thn. Tapi utk mencapai umur itu seekor Rajawali hrs membuat keputusan besar pd umurnya yg ke 40.
Saat umur 40 thn, cakarnya mulai menua, paruh menjadi panjang dan membengkok hingga hampir menyentuh dada. Sayapnya mjd sgt berat karena bulunya telah tumbuh lebat dan tebal, sehingga menyulitkan saat terbang. Saat itu, ia hanya mempunyai 2 pilihan: Menunggu kematian atau menjalani proses transformasi yg menyakitkan selama 150 hari.
Saat melakukan transformasi itu, ia harus berusaha keras terbang ke atas puncak gunung utk kemudian membuat sarang di tepi jurang, berhenti dan tinggal di sana selama proses berlangsung.
Pertama, ia hrs mematukkan paruhnya pada batu karang sampai paruh tersebut terlepas dr mulutnya, dan kemudian menunggu tumbuhnya paruh baru. Dengan paruh yg baru tumbuh itu, ia hrs mencabut satu persatu cakar-cakarnya dan ketika cakar yg baru sudah tumbuh, ia akan mencabut bulu badannya satu demi satu. Suatu proses yg panjang dan menyakitkan.
5 bulan kemudian, bulu2 yg baru sudah tumbuh. Ia mulai dapat terbang kembali. Dengan paruh dan cakar baru, ia mulai menjalani 30 tahun kehidupan barunya dengan penuh energi!
Dalam kehidupan, kadang kita juga harus melakukan suatu keputusan yg BESAR untuk memulai sesuatu proses PEMBARUAN. Berani membuang kebiasaan2 lama yg mengikat, meskipun itu adalah sesuatu yg menyenangkan dan melenakan.
Hanya bila kita bersedia melepaskan beban lama, membuka diri untuk belajar hal2 baru, kita mempunyai kesempatan untuk mengembangkan kemampuan kita yg terpendam, mengasah keahlian kita sepenuhnya dan menatap masa depan dengan penuh keyakinan!
Tantangan terbesar untuk berubah ada di dalam diri kita sendiri ! Have a great day, Rajawali !
dimana tulisan ini di tagg oleh sahabat saya bernama Zulfikri Azami..
semoga tulisan ini juga memberi kita cahaya..
Rajawali
Rajawali merupakan jenis unggas yg mempunyai umur paling panjang di dunia, dpt mencapai 70 thn. Tapi utk mencapai umur itu seekor Rajawali hrs membuat keputusan besar pd umurnya yg ke 40.
Saat umur 40 thn, cakarnya mulai menua, paruh menjadi panjang dan membengkok hingga hampir menyentuh dada. Sayapnya mjd sgt berat karena bulunya telah tumbuh lebat dan tebal, sehingga menyulitkan saat terbang. Saat itu, ia hanya mempunyai 2 pilihan: Menunggu kematian atau menjalani proses transformasi yg menyakitkan selama 150 hari.
Saat melakukan transformasi itu, ia harus berusaha keras terbang ke atas puncak gunung utk kemudian membuat sarang di tepi jurang, berhenti dan tinggal di sana selama proses berlangsung.
Pertama, ia hrs mematukkan paruhnya pada batu karang sampai paruh tersebut terlepas dr mulutnya, dan kemudian menunggu tumbuhnya paruh baru. Dengan paruh yg baru tumbuh itu, ia hrs mencabut satu persatu cakar-cakarnya dan ketika cakar yg baru sudah tumbuh, ia akan mencabut bulu badannya satu demi satu. Suatu proses yg panjang dan menyakitkan.
5 bulan kemudian, bulu2 yg baru sudah tumbuh. Ia mulai dapat terbang kembali. Dengan paruh dan cakar baru, ia mulai menjalani 30 tahun kehidupan barunya dengan penuh energi!
Dalam kehidupan, kadang kita juga harus melakukan suatu keputusan yg BESAR untuk memulai sesuatu proses PEMBARUAN. Berani membuang kebiasaan2 lama yg mengikat, meskipun itu adalah sesuatu yg menyenangkan dan melenakan.
Hanya bila kita bersedia melepaskan beban lama, membuka diri untuk belajar hal2 baru, kita mempunyai kesempatan untuk mengembangkan kemampuan kita yg terpendam, mengasah keahlian kita sepenuhnya dan menatap masa depan dengan penuh keyakinan!
Tantangan terbesar untuk berubah ada di dalam diri kita sendiri ! Have a great day, Rajawali !
Senin, 21 Juni 2010

Basrah, Iraq.
Sudah beberapa lama tak turun hujan. Hari itu belum beranjak siang. Terik matahari mulai terasa. Angin musim kemarau berhembus. Angin kering padang pasir menerpa wajah. Orang-orang mulai kesulitan mendapati air. Demikian juga binatang peliharaan yang kelihatan kurus-kurus.
Hari itu penduduk Basrah sepakat untuk mengadakan shalat Istisqa’. Untuk meminta hujan yang sudah sekian lama tertahan. Shalat itu akan dihadiri para ulama Basrah dan tokoh masyarakatnya. Yang langsung akan dipimpin oleh salah seorang ulama pilihan di antara mereka. Nampak di antara para ulama yang sudah hadir Ulama Besar Malik bin Dinar, Atho’ As-Sulaimi, Tsabit Al-Bunani, Yahya Al-Bakka, Muhammad bin Wasi’, Abu Muhammad As-Sikhtiyani, Habib Abu Muhammad Al-Farisi, Hasan bin Abi Sinan, Utbah bin Al-Ghulam, dan Sholeh Al-Murri.
Benar-benar sebuah sholat Istisqo’ yang istimewa. Dihadiri orang-orang terbaiknya. Tentunya dengan harapan agar Allah menurunkan kembali hujan yang ditahan karena dosa-dosa manusia.
Para penduduk nampak berduyun-duyun mendatangi lapangan yang telah ditentukan. Para ulama pun sudah mulai nampak di lapangan itu.
Anak-anak kecil yang asyik belajar di tempat pengajian Al-Qur’an mereka, juga nampak berlarian menuju lapangan. Demikian juga para wanitanya. Besar, kecil, laki, perempuan, tua, muda, semuanya tidak ada yang ketinggalan untuk mengikuti sholat. Dengan hanya satu harapan, agar hujan kembali turun.
Sholat dimulai. Dua rokaat sudah. Selesai itu sang imam menyampaikan khutbah dan doa panjangnya. Mengakui segala kelemahan dan kesalahan manusia yang menyebabkan murka Allah. Dan mengharap kembali turunnya berkah hujan dari langit. Karena masih ada orang tua dan binatang yang tidak bersalah ikut menanggung akibat dosa sebagian orang. Doa terus dipanjatkan.
Waktu terus beranjak siang. Tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Mendung tak kunjung datang. Langit masih terlihat cerah. Matahari semakin terasa terik. Sholat Istisqa’ selesai. Semua penduduk pulang ke rumah masing-masing. Tinggallah para ulama yang masing-masing bertanya dalam hati mengapa hujan tak kunjung datang. Padahal telah berkumpul orang-orang baik dan pilihan di masyarakat Basrah.
Akhirnya diputuskan untuk menentukan hari lain. Mengulang sholat Istisqa’ berharap untuk kali ke dua ini, Allah mengabulkan doa mereka. Sholat kedua ditentukan. Suasana sholat ketika itu tidak jauh berbeda dengan sholat sebelumnya. Dan kali ini pun belum ada tanda-tanda dikabulkannya doa. Langit masih sangat cerah dengan terik matahari tengah hari. Tanda tanya di hati para ulamanya semakin besar.
Sholat ketiga pun segera menyusul. Semoga yang ketiga inilah yang didengar, begitu harapan mereka. Persis seperti yang pertama dan kedua, sholat yang ketiga pun mempunyai suasana yang sama. Dan ternyata hasilnya pun sama. Hujan masih tertahan entah karena apa. Tanda tanya di hati para ulama Basrah kian menggelayut di dalam hati mereka masing-masing. Tanpa jawaban. Seluruh penduduk dan ulamanya pulang ke rumah dan tidak tahu kapan musim kering itu berlalu.
Tersisa Malik bin Dinar dan Tsabit Al-Bunani di lapangan terlihat berbincang serius. Perbincangan itu dilanjutkan di masjid yang tidak jauh dari tempat itu. Hingga malam datang menjelang. Masjid sudah sepi, tidak ada lagi yang sholat. Karena sudah malam larut.
Tiba-tiba mereka berdua dikejutkan oleh seorang dengan kulit berwarna gelap, wajah yang sederhana, dengan betis tersingkap yang terlihat kecil, dengan perut buncit. Orang itu memakai sarung dari kulit domba, demikian juga kain yang dipakainya untuk atas badannya. “Aku memperkirakan semua yang dipakainya tidak melebihi dua dirham saja,” kata Malik bin Dinar. Yang menunjukkan bahwa orang itu hanyalah orang miskin yang tidak memiliki banyak harta.
Malik bin Dinar mengamati gerak-geriknya, ingin mengetahui apa yang akan dilakukan oleh orang hitam itu di larut malam seperti ini. Orang itu menuju tempat wudhu. Setelah selesai wudhu, seperti tanpa mempedulikan Malik dan Tsabit yang mengamatinya dari tadi, orang itu menuju mihrab imam kemudian sholat dua rokaat. Sholatnya tidak terlalu lama. Surat yang dibaca tidak terlalu panjang. Ruku’ dan sujudnya sama pendeknya dengan lama berdirinya.
Selesai sholat, orang itu menengadah tangannya ke langit sambil berdoa. Malik bin Dinar mendengar isi doa yang disampaikan dengan suara yang tidak terlalu tinggi tapi terdengar. “Tuhanku, betapa banyak hamba-hamba-Mu yang berkali-kali datang kepada-Mu memohon sesuatu yang sebenarnya tidak mengurangi sedikitpun kekuasaan-Mu. Apakah ini karena apa yang ada pada-Mu sudah habis? Ataukah perbendaharaan kekuasaan-Mu telah hilang? Tuhanku, aku bersumpah atas nama-Mu dengan kecintaan-Mu kepadaku agar Engkau berkenan memberi kami hujan secepatnya.”
Setelah mendengar itu Malik bin Dinar berkata, “Belum lagi dia menyelesaikan perkataannya, angin dingin pertanda mendung tebal menggelayut di langit. Kemudian tidak lama, hujan turun dengan begitu derasnya. Aku dan Tsabit mulai kedinginan.”
Malik dan Tsabit hanya bisa tercengang melihat orang hitam itu. Mereka berdua menunggu hingga orang itu selesai dari munajatnya. Begitu terlihat orang itu selesai, Malik menghampirinya dan berkata, “Wahai orang hitam tidakkah kamu malu terhadap kata-katamu dalam doa tadi?” Orang tdai bertanya, “Kata-kata yang mana?” “Kata-kata: dengan kecintaan-Mu kepadaku,” kata Malik. “Apa yang membuatmu yakin bahwa Allah mencintaimu?” sambung Malik. Orang itu menjawab, “Menyingkirlah dari urusan yang tidak kamu ketahui, wahai orang yang sibuk dengan dirinya sendiri! Dimanakah posisiku ketika aku dapat mengkhususkan diri kami untuk beribadah hanya kepada-Nya dan ma’rifat kepada-Nya. Mungkinkah aku dapat memulai hal itu jika tanpa cinta-Nya kepadaku sesuai dengan kadar yang dikehendaki dan cintaku kepada-Nya sesuai dengan kadar kecintaanku.”
Setelah berkata itu, dia pergi begitu saja dengan cepatnya. Malik memohon, “Sebentar, semoga Allah merahmatimu. Aku perlu sesuatu.” Orang itu menjawab, “Aku adalah seorang budak yang mempunyai kewajiban untuk mentaati perintah tuanku.”
Akhirnya Malik dan Tsabit sepakat untuk mengikuti dari jauh. Ternyata orang itu memasuki rumah seorang yang sangat kaya di Basrah yang bernama Nakhos. Malam sudah sangat larut. Malik dan Tsabit merasakan sisa malam begitu panjang, karena rasa penasarannya untuk segera mengetahui orang itu di pagi harinya.
Pagi yang dinanti akhirnya tiba. Malik yang memang mengenal nakhos itu segera menuju rumahnya untuk menanyakan budak hitam yang dijumpainya semalam. “Apakah engkau punya budak yang bisa engkau jual kepadaku untuk membantuku?” kata Malik bin Dinar beralasan untuk mengetahui budak hitam yang dijumpainya semalam. Nakhos berkata, “Ya, saya mempunyai seratus budak. Kesemuanya bisa dipilih.” Mulailah Nakhos mengeluarkan budak satu per satu untuk dilihat Malik. Sudah hampir semuanya dikeluarkan, ternyata Malik tidak melihat budak yang dilihatnya semalam. Sampai Nakhos menyatakan bahwa budaknya sudah dikeluarkan semua. “Apakah masih ada yang lain?” tanya Malik. “Masih tersisa satu lagi,” jawab Nakhos.
Saat itu waktu mendekati waktu dhuhur. Saat istirahat siang. Malik berjalan ke belakang rumah menuju suatu kamar yang sudah terlihat reot. Di dalam kamar itulah Malik melihat budak hitam yang dilihatnya semalam sedang tertidur lelap. “Nakhos, dia yang saya mau, ya demi Allah dia,” kata Malik semangat. Dengan penuh keheranan Nakhos berkata, “Wahai Abu Yahya, itu budak sial. Malamnya habis untuk menangis dan siangnya habis untuk sholat dan puasa.” “Justru untuk itulah aku mau membelinya,” kata Malik. Melihat kesungguhan Malik, Nakhos memanggil budak tadi.
Dengan wajah kuyu, dengan rasa kantuk yang masih terlihat berat budak itu keluar menemui majikannya. Nakhos berkata kepada Malik, “Ambillah terserah berapa pun harganya agar aku cepat terlepas darinya.”
Malik mengulurkan dua puluh dinar sebagai pembayaran atas harga budak itu. “Siapa namanya?” tanya Malik yang sampai detik itu masih belum mengetahui namanya. “Maimun.”
Malik menggandeng tangan budak itu untuk diajak ke rumahnya. Sambil berjalan, Maimun bertanya, “Tuanku, mengapa engkau membeliku padahal aku tidak cocok untuk membantu?”
Malik berkata, “Saudaraku tercinta, kami membelimu agar kami bisa membantumu.” “Kok bisa begitu?” tanya Maimun keheranan. “Bukankah kamu yang semalam berdoa di masjid itu? Tanya Malik. “Jadi kalian sudah tahu saya?” Maimun kembali bertanya. “Ya akulah yang memprotes doamu semalam,” kata Malik.
Budak itu meminta untuk diantar ke masjid. Setelah sampai ke pintu masjid, dia membersihkan kakinya dan masuk. Langsung sholat dua rokaat. Malik bin Dinar hanya bisa diam sambil mengamatinya dan ingin tahu apa yang ingin dilakukannya. Selesai sholat, orang itu mengangkat tangannya berdoa seperti yang dilakukannya kala malam itu. Kali ini dengan doa yang berbeda, “Tuhanku, rahasia antara aku dan Engkau telah Engkau buka di hadapan makhluk-makhluk-Mu. Engkau telah membeberkan semuanya. Maka bagaimana aku nyaman hidup di dunia ini sekarang. Karena kini telah ada yang ketiga yang menghalangi antara aku dan diri-Mu. Aku bersumpah, agar Engkau mencabut nyawaku sekarang juga.”
Tangan diturunkan, budak itu kemudian sujud. Malik mendekatinya. Menunggu dia bangun dari sujudnya. Tetapi lama dinanti tak juga bangun. Malik menggerakkan badan budak itu, dan ternyata budak itu sudah tidak bernyawa lagi.
(ar/oq) www.suaramedia.com
Rabu, 09 Juni 2010

alhamdulillah..
aku dapat kiriman lagi dari sahabat di jakarta...
karena kita harus berbagi,,
maka akan aku bagi kiraman itu dengan klyn smua :))
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dulu, saat masih kuliah S.1 di Jurusan Hadits, Fakultas Ushuluddin, Universitas Al-Azhar, Kairo ia pernah ditawarkan dengan seorang mahasiswi oleh temannya yang telah menikah. Tapi saat itu ia menolak tawaran tersebut. Obsesinya untuk menyelesaikan S.2 lebih kuat mengalahkan keinginan untuk menikah. Namun kini, ia merasa dirinya harus segera menyempurnakan separuh agamanya. Ia membutuhkan seorang pendamping yang menjadi tempatnya berlabuh dan menumpahkan berbagai cerita dan gelisah jiwanya. Apalagi desakan dari Ibunya membuatnya tidak lagi bisa berdiam diri.
Ia sendiri heran, kenapa dorongan untuk menikah serasa kuat menyesak di rongga dadanya. Apakah saatnya telah tiba? Ia mencoba untuk banyak berpuasa, tapi puasa itu seakan tak mampu menundukkan gejolak itu. Berat. Hampir setiap malam ia menangis. Mengadukan perasaannya pada Sang Pencipta. Menumpahkan segala sesak di dada. Ia berdoa dalam tahajudnya yang panjang. Mengharap belas kasih dan curahan rahmat dari Sang Pemilik Jiwa.
"Selamat ya Fuad atas prestasi yang kamu raih dalam lomba Jaizah Dubes kemaren. Kapan jadi berangkat ke Australia?" Sapa Ustadz Jalal pada Fuad ketika Fuad berkunjung ke rumahnya.
"Insya Allah tanggal 14 Juli nanti, Ustadz."
"Insya Allah, semoga urusannya lancar dan perjalanan kamu diberkahi Allah."
"Amin, syukran doanya Ustadz."
"Sama-sama akhi. Apa kesibukan kamu sekarang?"
"Fokus merampungkan Tesis S.2. Saya punya target tahun depan sudah bisa di-munaqasyahkan, insya Allah."
"Insya Allah, akhi. Saya kagum dengan semangat dan kegigihanmu menuntut ilmu. Dalam usia yang masih muda, kamu akan menyelesaikan S.2-mu."
"Biasa saja Ustadz. Belum sepadan dengan prestasi yang pernah Ustadz raih," balas Fuad penuh senyum.
"Kamu terlalu merendah Akhi, saya senang bisa mengenalmu. Jarang lho di Al-Azhar ada mahasiswa yang bisa menyelesaikan S.2-nya pada usia 26 tahun."
"Seharusnya saya yang merasa senang bisa berkenalan dengan kandidat Doktor Jurusan Tafsir di Universitas Al-Azhar," jawab Fuad tak mau kalah.
"Ah, kamu terlalu berlebihan memuji saya akhi. Begini Akhi, mungkin lansung saja ya pada inti pembicaraan. Saya diberi amanah oleh kakak saya di Indonesia untuk mencarikan calon suami untuk anaknya. Selama ini saya mengamati mahasiswa-mahasiswa yang saya kenal termasuk akhi. Setelah saya coba pikirkan dan bicarakan dengan istri saya, saya melihat akhi orang yang tepat."
"Afwan Ustadz, saya kira Ustadz keliru dan terlalu berlebihan menilai saya. Saya hanya orang yang biasa saja."
"Tidak Akhi. Penilaian ini bukan asal-asalan. Tapi setelah sekian lama saya mengamati kehidupan Akhi. Kalau akhi berminat dan telah punya keinginan untuk menikah, kita bisa bicarakan lebih lanjut."
"Apakah calon yang wanitanya di Indonesia Ustadz?"
"Tidak, dia kuliah di Jurusan Syariah Islamiyah, tingkat tiga."
"Apa saya mengenalnya Ustadz?"
"Mungkin tidak. Sangat beda dengan akhi, kalau akhi seorang aktivis dia sebaliknya. Tidak banyak yang mengenalnya."
"Apa dia sendiri telah siap menikah Ustadz?"
"Insya Allah, kalau dia gak ada masalah. Ia selalu menuruti keinginan orang tuanya. Dia anak yang penurut. Kalau akhi bagaimana, apa sudah punya calon?"
"Belum Ustadz."
"Berarti pas sekali," tanggap Ustadz Jalal penuh riang dan menunjukkan wajah cerah.
"Tapi Ustadz, saya butuh waktu untuk mencerna dan mempertimbangkannya. Saya belum bisa memberi jawaban sekarang. Saya butuh waktu seminggu untuk memberi jawaban pada Ustadz."
"Tidak mengapa akhi. Saya bisa maklum. Silahkan ditimbang dulu dengan matang. Jika akhi menyetujui saya sangat senang sekali. Namun bila sebaliknya, tidak mengapa, saya akan mencoba menawarkan pada yang lain."
"Insya Allah Ustadz, akan saya istikharahkan pada Allah, semoga Allah menunjukkan yang terbaik, amin."
"Amin."
"Alhamdulillah, akhirnya amanah ini tersampaikan juga. Saya sangat senang sekali. Selamat Fuad kamu akan menikah sebentar lagi."
"Doanya Ustadz, semoga saya bisa mengemban amanah ini dengan baik."
"Amin, semoga Allah selalu memberkahi kalian nantinya, amin. Fuad, ada satu hal yang sangat penting untuk kamu ketahui, calon istrimu itu cacat."
Fuad sangat terkejut.
"Cacat maksud Ustadz bagaimana?"
"Cacat pendengaran, penglihatan, lisan, kedua tangan dan kedua kaki. Terkadang sering berbicara sendiri dan juga sering menangis tanpa sebab. Bagaimana, apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu?"
Fuad diam sejenak. Ia terlihat memikirkan sesuatu. Tak lama kemudian ia menjawab.
"Insya Allah, saya siap Ustadz," jawabnya dengan mantap.
"Ini keputusanmu?"
"Ini bukan keputusan saya Ustadz, tapi keputusan Allah. Saya telah meng-istikharahkan dan saya rasakan hati saya mantap dan teguh dengan pilihan ini. Saya yakin Allah lebih mengetahui apa yang terbaik untuk saya."
"Apa kamu tidak menyesal dengan pilihan yang telah kamu ambil?"
"Tidak Ustadz, sama sekali tidak. Bagi saya, pilihan Allah lebih baik dan mulia. Walau secara zahir itu berat dan mungkin menyakitkan, tapi saya rela dan ikhlas. Insya Allah ada pahala dan kebaikan disana menanti. Saya teringat ketika Nabi Ibrahim harus dilemparkan ke dalam api, saat itu beliau tidak gusar dan tidak takut sedikitpun, karena Allah selalu bersama hamba-Nya yang berserah pada-Nya. Atau ketika Nabi Ibrahim harus meninggalkan istri dan anaknya di padang pasir yang tandus demi memenuhi seruan Allah."
"Saya kagum dan bangga padamu Fuad. Sebenarnya sejak awal saya ingin menceritakan padamu kondisi calonmu itu. Tapi, saat itu saya lupa untuk menyampaikannya. Maafkan atas kealpaan saya tersebut."
"Tidak mengapa Ustadz, semuanya sudah terjadi, dan sebagai seorang hamba Allah kita wajib menerima kehendak takdir. Barangkali dalam takdir Allah saya harus menikah dengan seorang wanita yang cacat. Saya ikhlas Ustadz. Mungkin disana pula sumber pahala saya dari Allah. Berkhidmah pada hamba-Nya yang cacat."
"Tapi apakah akhi tidak mencoba mencari wanita lain yang lebih baik dan sempurna?"
"Sebenarnya pada saat Ustdaz menawarkan anak dari kakak Ustadz pada saya, dua hari sebelumnya saya juga ditawarlan oleh teman saya, bahwa teman istrinya juga lagi mencari calon suami. Dan sebelumnya juga ada tawaran. Karena itu saya meminta pada Ustadz agar memberi saya waktu satu minggu untuk istikharah. Karena ada tiga wanita yang akan saya istikharahkan. Saya perlu waktu yang lama untuk memikirkan dan memutuskan dengan matang."
"O begitu, saya baru paham. Kekuatan apa lagi yang menguatkan langkahmu untuk menjatuhkan pilihan pada anak kakak saya tersebut?"
"Istikharah dan mimpi kedua orang tua saya Ustadz. Kami mengalami mimpi yang sama dan merasakan ketentraman serta kemantapan hati yang sama."
"Saya kagum padamu akhi, saya merasa tidak salah memilih dan menilai selama ini. Akhi adalah orang yang tepat. Semoga Allah merahmati hidupmu dan keluarga yang akan akhi bina nantinya, amin," ucap Ustadz Jalal dengan wajah berbinar-binar.
Satu minggu berlalu setelah pernikahan, Fuad menemui Ustadz Jalal Fakhruddin di rumahnya, di Bawwabah Tiga.
"Bagaimana kabarnya Fuad? Kamu terlihat sangat cerah dan lebih segar sekarang."
"Alhamdulillah Ustadz. Segala puji bagi Allah atas nikmat yang Ia curahkan."
"Ada yang ingin saya tanyakan tentang cerita Ustadz kemaren. Ustadz mengatakan bahwa istri saya cacat pendengaran, penglihatan, lisan, kedua kaki dan tangan. Sering berbicara sendiri dan kadang suka menangis tanpa sebab. Saya telah mengetahui dua jawaban yang terakhir. Saya menyadari bahwa istri saya memang sering terlihat seolah berbicara sendiri. Awalnya saya heran. Tapi setelah saya tanyakan dan mendengar dari dekat, ia tengah berzikir, menyebut nama Allah, terkadang bershalawat pada Rasulullah, dan membaca al-Quran. Saya perhatikan ia melakukannya setiap hari, setiap waktu, tanpa henti. Sewaktu menyapu rumah, mencuci piring, menjemur pakaian, memasak, lisannya seolah tak pernah berhenti berzikir. Begitu juga saat bepergian ke luar rumah. Adapun yang Ustadz katakan, bahwa ia terkadang sering menangis tanpa sebab, saya hampir mendapati itu tiap hari juga. Ketika saya tanyakan, ia menjawab bahwa ia teringat akan dosa-dosanya pada Allah, takut jika amalnya tidak diterima, teringat azab dalam kubur, mahsyar, hari penghisaban, shirat dan siksa neraka. Jika teringat akan hal itu air matanya sering meleleh. Itulah yang saya ketahui. Sedangkan cacat pendengaran, penglihatan, lisan, kedua tangan serta kaki itu, saya tidak mendapatkan. Saya perhatikan semuanya baik dan sehat."
"Akhi Fuad, alhamdulillah akhi telah menemukan jawabannya. Sedangkan maksud saya cacat pendengaran adalah, telinganya tidak pernah mendengarkan perkataan yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Tidak pernah mendengarkan musik dan segala lagu-lagu yang merusak iman dan jiwa. Sesungguhnya yang selalu menjadi penghibur dirinya adalah al-Quran dan nasehat-nasehat para ulama. Cacat penglihatan adalah tidak pernah melihat pada yang haram, seperti menonton film yang di dalamnya syahwat diumbar, bisa saya katakan, matanya selalu terjaga dari melihat segala hal yang mengudang dosa dan maksiat. Dan cacat lisan adalah ia tidak pernah berinteraksi dengan laki-laki, baik melalui sms, telpon, chating di YM, di FB dan seterusnya. Ia sangat menjaga hubungan dengan lawan jenis. Lisannya terjaga dari komunikasi dengan lawan jenis. Adapun cacat tangan adalah tidak pernah berbuat yang nista dan tercela. Sedangkan cacat kaki adalah selalu terjaga dari menempuh tempat-tempat maksiat. Selama di Mesir kakinya hanya melangkah untuk ke mesjid, majlis-majlis ilmu, bersilaturahmi, tidak pernah pergi ke warnet, mengikuti acara-acara yang di dalamnya bercampur laki-laki dan perempuan. Begitulah akhi, penjelasan singkatnya. Nanti setelah hidup lebih lama dengannya akhi akan banyak mengetahui tentang dirinya."
"Saya bersyukur Ustadz, inilah rupanya rahasia di balik petuntuk yang Allah berikan, dan hasil dari istikharah saya selama ini dan juga mimpi saya. Saya melihat dalam mimpi sebuah cahaya yang begitu terang, meneduhkan, menyejukkan, dan beraroma harum seperti kasturi."
Air mata Fuad menetes penuh bahagia, ia lalu bersujud syukur. Ia telah dikaruniai seorang wanita sorga yang dihadirkan Allah ke bumi. Wanita yang selalu menjadi buah bibir penduduk langit karena ketaatannya. Ia teringat dengan hadits Rasulullah. Walau di bumi istrinya tidak dikenal banyak orang tapi di langit, ia yakin istrinya selalu disebut dan didoakan oleh para malaikat.
sumber:
http://www.facebook.com/notes/yusuf-mansur-network/cacatnya-wanita-penghuni-dua-surga/426063625209
Langganan:
Postingan (Atom)
salah satu mimpiku..
Prof. Dr. Fina M, Ir., M.Sc. (say : amin )
Himatipan UNPAD
Total Tayangan Halaman
jejak pengunjung.......
About Me
- MuFin
- alhamdulillah, sekarang menuntut ilmu di kota "paris van java", angkatan 2009. target saya lulus 4 tahun (amin..) Berusaha agar hidup semata2 hanya untuk Allah.. Aku hanyalah seorang perempuan biasa yang memiliki mimpi yang tak biasa, seorang perempuan tak pintar yang ingin belajar untuk menjadi pintar, seorang perempuan yang penakut yang selalu semangat meraih cita-cita, seorang perempuan cengeng yang selalu berani menatap masa depan, seorang perempuan yang selalu menatap dengan senyum walau badai menghampiri... menatap ke bawah saat tergoncang, dan menatap ke atas saat tak ada badai dan Aku.... mencintai nya, sangat mencintai Nya.






